• April 17, 2024

Trisna Berdayakan Kaum Difabel untuk Produksi Fesyen Figur Jepang

JAKARTA, Pemahaman mengenai sustainable business dibutuhkan untuk mengurangi pengaruh negatif kegiatan usaha kepada lingkungan dan masyarakat.

Salah satu pelaku usaha UMKM yang mulai menyadari pentingnya sustainable dalam berbisnis merupakan Keytabee, sebuah brand yang fokus pada bidang fesyen si kecil-si kecil dengan mengadopsi gaya Jepang.

Owner Keytabee, Trisna Utami Lestari mengungkapkan bahwa ia sangat berharap bisnis yang ia jalankan kelak bisa masuk kelompok fesyen yang sustainable.

“PBB memastikan ada 17 Social Development Goals supaya kehidupan di bumi bisa lebih baik dan lebih berkelanjutan. Sama seperti si kecil sekolahan yang naik kelas dari kelas satu sampai akhir, Keytabee juga berproses seperti itu supaya menjadi bisnis slot 777 yang bisa meliputi 17 skor itu,” jelas Trisna di Jakarta dalam acara Bronis UMKM, Jumat (05/04/2024).

Untuk menggunakan prinsip berkelanjutan hal yang demikian, Trisna menjalankan bermacam-macam upaya supaya bisnis fesyen yang dijalankan bisa berjalan optimal.

Trisna mengatakan untuk meniru keberlanjutan itu, ia berkonsentrasi pada gaya oversize. Segala bahan yang Keytabee pakai juga tentunya bahan yang bersifat ecofriendly.

“Tujuannya supaya jangka waktu atau masa pakainya bisa lebih lama. Jadi si kecil-si kecil yang pakai tidak cepat berganti ke pakaian-pakaian baru, dimana nanti akan berimbas juga kepada waste,” ungkap Wanita itu.

Kerja Produksi yang Bertanggung Jawab

Kecuali itu, Keytabee juga bertanggung jawab pada pengerjaan produksi pakaian-pakaiannya. Bisnis fesyen pasti menghasilkan sisa-sisa kain yang tidak terpakai lagi. Untuk memecahkan hal itu Keytabee akan bertanggung jawab penuh.

Mereka akan memperkerjakan atau bekerja sama dengan kaum-kaum difabel di Cianjur (lokasi usaha Keytabee) untuk membikin hal-hal baru yang berguna dan menambah skor dari limbah-limbah kain itu.

Kain sisa produksi pakaian akan dihasilkan menjadi bantal perca, totebag, dan jepitan yang mana akan dijual kembali.

“Kami memperkerjakan sahabat-sahabat difabel dan membayar mereka secara fair dan pantas. Tak seperti konveksi kebanyakan yang menggaji dengan kecil,” kata Trisna.

Untuk meminimalkan limbah produksinya, Keytabee juga bermitra dengan Ecobrick Cianjur untuk bisa memanfaatkan limbah yang sama sekali tidak bisa terpakai lagi.

Mereka akan menggunakan limbah itu dan dimasukkan ke bekal-bekal plastik, yang mana dihasilkan untuk tempat duduk, meja, dan kelengkapan lainnya.